Benteng Fort De Kock : Sejarah Benteng Peninggalan Zaman Kolonial Yang Menjadi Tempat Wisata

Benteng Fort De Kock adalah bukti bila wisata sejarah di Indonesia memang diperhatikan dan dikembangkan dengan baik. Walau masih ada beberapa yang terbengkalai. Jika kamu pencinta sejarah tempat ini cocok untuk kamu karena disini kamu bisa nikmati perjuangan dalam mengusir penjajah versi rakyat sumatera barat.

Sejarah Benteng Fort De Kock

Benteng peninggalan zaman kolonial ini terletak di Kota Bukittinggi, Provinsi Sumatera Barat tepatnya di Jalan Benteng, Kelurahan Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang. Benteng ini dibangun pada tahun 1830 oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dengan maksud sebagai pertahanan tentara Belanda terhadap perlawanan rakyat yang dimotori oleh Tuanku Imam Bonjol.

Benteng ini dibangun di atas bukit (ketinggian 958 Mdpl) sehingga kondisi sekeliling dengan leluasa dapat diamati tanpa halangan yang berarti. Secara fisik bangunan benteng di lokasi ini sudah tidak ada. Bangunan yang tersisa hanya berupa bangunan bak air dengan denah persegi empat.

Latar belakang didirikannya benteng ini berawal dari perang paderi yang sempat terjadi di negeri Minang. Pertarungan sengit antara kaum adat dengan kaum paderi yang menjunjung tinggi ajaran islam. Pihak Belanda pun mencoba turut campur tangan dengan membatu kaum adat. Tetapi, seiring berjalannya waktu kaum adat merasa dirugikan sehingga, mereka pun bergabung dengan kaum paderi.

Pemberontakan inilah yang membuat pihak Belanda mendirikan benteng yang diberi nama Sterreschans ini. Kemudian, namanya di ganti menjadi Fort De Kock yang diambil dari nama letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, sekaligus komandan militer yaitu Hendrik Merkus Baron de Kock

Berbeda dengan benteng lainnya yang masih berdiri kokoh. Benteng ini sudah tidak lagi berbentuk sebagaimana mestinya seperti sebuah bak air yang di depannya terdapat sebuah parit yang mempunyai kedalaman kurang lebih 3 meter.

Tetapi, jangan bersedih dahulu tidak semua peninggalannya hancur, masih ada beberapa meriam dengan panjangnya mencapai 280 centimeter. Disini, kita bisa melihat ada tahun pembuatan meriam ini yang bertuliskan 1813. Dan juga prasasti yang ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.

Pada tahun 2002, pemerintah setempat mencoba memoles kembali bangunan ini agar jejak sejarahnya tidak ditinggalkan. Hingga akhirnya terbentuklah Taman kota dan juga Taman burung yang ternyata menjadi serbuan wisatawan.

Selain meriam dan pahatan prasasti. Kita juga bisa menikmati kursi-kursi taman yang nyaman. Musholla bagi anda umat muslim untuk beribadah. Toko oleh-oleh yang menawarkan berbagai macam camilan khas serta souvenir unik. Ada lagi toilet yang bersih dan harum.

Daya Tarik Benteng Fort De Kock

Tidak hanya sampai disitu saja. Benteng Fort De Kock juga menawarkan beberapa fasilitas daya tarik tersendiri dari tempa wisata bersejarah ini. Di tempat ini pun juga bisa menikmati sebuah bangunan putih yang terdiri dari dua anak tangga.

Pertama, anda akan disuguhkan dengan pesona alam dari taman ini. Kedua, dengan sudut kemiringan 45 derajat, anda akan disuguhkan dengan pemacar radio dan gubug kecil. Tidak hanya orang dewasa yang bisa menikmati keindahannya melainkan anak-anak pun juga bisa dengan hadirnya wahana permainan Playground. Ada Sebuah istana yang berisi perosotan, ayunan, dan juga jungkat-jungkit yang siap menghibur anak-anak.

Saat memasuki pintu gerbang, kita sudah disambut dengan beberapa sangkar burung. Ada burung kaka tua, ada burung nuri, ada buruk Jalak yang bisa kita nikmati disini. Tak Jarang pula burung-burung ini akan bersahutan dan menghadirkan suasana alam yang mengesankan.

itulah sejarah benteng sebagai tempat pertahanan yang selalu ramai di kunjungi para wisatawan disaat weekend, yang kemudian untuk saat ini berfungsi menjadi bagian dari objek wisata yaitu kebun binatang.

Anda mungkin juga suka...